Anda pernah mendengar istilah “mimesis”? Mimesis adalah proses meniru yang terdapat dalam diri manusia untuk mengembangkan kehidupan. Proses ini adalah alamiah, karena sejak lahir pun, kita sudah diajarkan untuk meniru apa yang dilakukan oleh orangtua. Jika manusia bisa melakukan mimesis, adakah produk yang merupakan hasil mimesis?

Jawabannya adalah banyak sekali produk zaman sekarang yang merupakan hasil mimesis. Ada produk yang sangat meniru, ada pula produk yang menganut strategi ATM atau Amati Tiru Modifikasi. Produk dengan strategi ATM banyak sekali contohnya di sekitar kita. Bisa dilihat pada lagu-lagu yang beredar saat ini.

Banyak penyanyi yang mengaku lagu ciptaannya adalah yang pertama dan orisinal. Namun, ada pula penyanyi yang mengaku lagu ciptaannya telah dijiplak oleh penyanyi lain. Ketika dilayangkan protes oleh empunya lagu, si penjiplak berdalih bahwa lagu yang ia ciptakan terinspirasi dari lagu yang telah ada. Jika seperti ini, si empunya lagu bebas memilih untuk tetap melayangkan protes melalui jalur hukum, atau justru berpikir positif karena ternyata lagu yang ia ciptakan sangat menginspirasi orang lain.

Kasus di atas sebenarnya dapat dicegah dengan tidak menggunakan proses mimesis seutuhnya. Jika pencipta lagu menggunakan metode design thinking, mungkin ia akan terbebas dari gugatan pemilik lagu sebelumnya dan juga pendengar lagu. Metode design thinking ini cukup luas untuk digunakan oleh berbagai kalangan. Tidak hanya pencipta lagu saja, para manajer dan pebisnis pun dapat menggunakan metode ini.

Design thinking adalah cara berpikir yang rinci dan tidak konvensional. Misalnya, ketika pencipta lagu tadi diberikan tugas oleh produser untuk membuat lagu bertema patah hati. Jika berpikir dengan metode konvensional, si pencipta lagu akan membuat lagu dengan cerita dua orang yang sedang memadu kasih lalu harus putus di tengah jalan karena dilarang orangtua. Padahal, jika berpikir dengan metode design thinking, si pencipta lagu bisa memilih cerita yang lebih kreatif daripada itu.

Dengan tema patah hati, dapat diurai ke dalam beberapa pertanyaan. Misalnya, bagaimana patah hati bisa terjadi? Apakah patah hati hanya terjadi pada pasangan? Jika tidak, bisakah terjadi dengan orangtua? Atau, dengan atasan di tempat si tokoh bekerja? Dari semua pertanyaan tersebut, dapat ditarik menjadi sebuah ide lagu yang lebih menarik dari pemikiran konvensional. Bisa saja lagu itu bercerita tentang seseorang yang patah hati karena tidak jadi dipromosikan oleh atasannya di kantor.

Semua pertanyaan tersebut dapat dijabarkan menjadi beberapa ide lagu cemerlang yang tidak perlu menggunakan mimesis dan mencegah hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Proses design thinking akan efektif jika ada action atau langkah nyata yang harus kita wujudkan.


mencuri-kreativitas-desainerMetode design thinking ini dapat Anda temukan dalam buku Mencuri Kreativitas Desainer karya Raul Renanda. Buku ini mengulas bagaimana cara berpikir dan bertindak seperti seorang desainer untuk inovasi dan pengembangan diri.