mentalitas-kaya-miskinKaya secara finansial secara umum didefinisikan sebagai memiliki sejumlah besar harta dan penghasilan. Seseorang dikatakan kaya jika memiliki total harta sejumlah sekian atau lebih. Seseorang bisa dikatakan kaya jika memiliki penghasilan yang lebih besar dari biaya hidupnya. Atau bisa juga dikatakan kaya jika penghasilan pasifnya sudah melebihi biaya hidupnya. Betulkah begitu?

 

Kaya dalam bahasa Arab disebut ghani, yaitu bermakna tidak membutuhkan. Kebalikan dari ghani adalah fakir, yang artinya membutuhkan. Maka, kaya sebetulnya bukan dilihat dari ukuran kuantitas seberapa besar penghasilan atau total aset yang dimiliki. Kaya adalah kondisi ketika Anda sudah merasa tidak memerlukan lagi atau merasa cukup dengan harta atau penghasilan Anda.

Level “kaya” ini memang bisa didapatkan dengan cara memiliki harta sebanyak-banyaknya. Saking banyak harta, sampai merasa sudah cukup dan tidak lagi peduli dengan beberapa penghasilannya dan berapa jumlah hartanya. Atau level kaya ini juga bisa dicapai dengan menjauhkan dari dan mengingkari kenikmatan duniawi. Tentu saja yang dibahas di sini adalah jenis kaya yang pertama, yaitu berkelimpahan harta (alam standarnya sendiri) dan merasa tidak membutuhkan.

Mentalitas orang kaya adalah mental orang yang tidak merasa kekurangan, atau merasa cukup dengan yang dimilikinya. Maka, ia tidak merasa kehilangan ketika berbagi, tidak merasa kehilangan ketika memberi karena sudah merasa “kaya”. Sebaliknya, mentalitas miskin adalah tidak pernah merasa cukup dan puas. Selalu merasa kurang dan ingin lebih sampai tidak terbatas. Walau harta sudah melimpah ruah sampai tidak habis diwariskan pada beberapa generasi, tetapi tetap saja tidak merasa cukup. Kikir ketika memberi, karena merasa kurang untuk diri sendiri. Dengan mentalitas miskin, fokusnya adalah mengumpulkan harta untuk dirinya sendiri.

Namun, dengan membayar Tuhan terlebih dulu atau memenuhi kewajiban sosial seperti yang diperintahkan-Nya, artinya kita diajarkan untuk memiliki mentalitas kaya yang tidak takut kehilangan karena sudah merasa cukup. Bahagia ketika memberi, takut ketika tidak mampu memberi lebih. Jadi, menempatkan pengeluaran sosial dalam prioritas nomor satu dari cara “menghabiskan” uang di jalan yang benar bukan cuma agar pengeluaran kita lebih baik, tetapi lebih dari itu. Dengan menempatkan pengeluaran sosial sebagai prioritas nomor satu juga merupakan salah satu cara untuk memperbesar penghasilan.

Resep kaya yang banyak digunakan orang sekarang ini adalah, bayar di Anda terlebih dahulu. Artinya, sebelum membayar segala macam tagihan dan biaya hidup, Anda sudah mengalokasikan di awal untuk ditabung. Andalah yang paling berhak untuk menikmati hasil kerja keras Anda, bukan bank, bukan supermarket, bukan pula supplier. Maka, bayar diri Anda terlebih dahulu dalam bentuk tabungan yang diinvestasikan. Ini diyakini sebagai cara untuk kaya. Rumus ini memang benar adanya, karena sipat uang yang memang sulit untuk bisa bersisa, maka Anda harus menabung di awal ketika menerima gaji, bukan di akhir. Jika tabungan ini kemudian diinvestasikan atau dibisniskan dengan baik, kekayaan secara finansial tinggal menunggu waktunya saja.

Sayangnya teori ini gagal menciptakan mentalitas orang kaya. Namun, justru dikhawatirkan malah menumbuhkan mentalitas orang miskin. Secara finansial, dalam kondisi yang berkecukupan, bahkan berlebih, tetapi mentalitasnya masih mentalitas orang miskin. Jadi, apa yang semestinya kita lakukan agar kita benar-benar kaya sekaligus memiliki mentalitas orang kaya? Simak teknis dan penjelasannya di dalam buku “Habiskan Saja Gajimu!!” (Ahmad Gozali. TransMedia Pustaka. 2013)