13/01/2015

“Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.” Pepatah lawas ini selalu menjadi motivasi tersendiri bagi mereka yang dihadang berbagai persoalan, terutama menyangkut mimpi-mimpi besar yang belum terwujud—mulai dari jenjang karier, pendidikan, keluarga, hingga urusan percintaan.

Orang-orang kreatif biasanya sudah tahu, celah apa saja yang harus dipersiapkan untuk menghadapi kegagalan. Mereka yang terus mencoba hal baru dan berupaya menghadapi tantangan cenderung akan menemukan jalan sendiri menuju kesuksesan dibandingkan mereka yang menyerah dan terpuruk pasrah begitu saja. Memang, kesuksesan tidak bisa didapatkan begitu saja. Wajar jika ada hambatan dan kerikil-kerikil tajam yang akan menghadang.

Steve Jobs, misalnya, memandang bahwa pemecatan yang dilakukan terhadap dirinya di Apple sebagai obat mujarab untuk meraih kesuksesan. Jika tidak kuat mental, mungkin dia sudah frustrasi dan berhenti berkreasi. Tetapi passion memanggilnya untuk lebih kreatif lagi saat ia membuat perusahaan NeXT dan Pixar. Kedua perusahaan tersebut kemudian sukses, melambungkan kembali namanya yang sempat terpuruk. NeXT dipatenkan Apple dan membawa Steve kembali ke sana, sedangkan Pixar menjadi perusahaan animasi paling sukses usai meluncurkan film animasi pertamanya, Toy Story.

Kisah tentang kebangkitan Steve Jobs setelah dipecat dari Apple terus menjadi inspirasi jutaan orang di seluruh dunia. Bagaimana cara ia menghadapi kegagalan, lalu membuka kembali ruang kreatif dengan cara berinovasi dan berani tampil beda.

Perusahaan raksasa internet sekaliber Google juga tak pernah luput dari kegagalan. Ada beberapa daftar produknya yang tidak diterima publik dan bisa dikatakan gagal total. Sebut saja Google Buzz, Google Health, Jaiku, Google Wave, Google Reader, dan sebagainya. Mereka kemudian menyiasatinya dengan mengembangkan produk tersebut ke dalam beberapa versi agar secara bersamaan dapat menerima masukan dan kritikan dari publik.

Gagal itu menyakitkan, iya. Mimpi yang sudah dicita-citakan gagal terwujud, jelas membuat Anda kecewa. Tetapi menurut Jeff Hawkins, yang terpenting adalah jangan menganggap bahwa semua kegagalan itu terletak pada diri Anda. Teruslah terpacu untuk bangkit dan mencoba lagi dan lagi. Semakin banyak kegagalan yang dialami, semakin banyak pengalaman-pengalaman baru yang didapatkan.


what i wishUsia 20 tahunan adalah usia unggul seseorang untuk melangkah menggapai segala impian. Di usia ini, segala keputusan seseorang akan menentukan nasibnya di masa depan.

Tina Seelig adalah seorang penulis dengan pengalaman menakjubkan di bidang inovasi dan kewirausahaan. Melalui bukunya yang berjudul “What I Wish I Knew when I Was 20”, ia memaparkan banyak hal tentang kesuksesan, cara bangkit dari keterpurukan, dan inovasi-inovasi baru.

Buku ini juga disertai contoh-contoh menarik yang bisa membawa Anda untuk lebih termotivasi lagi menggapai impian.

 

 

Sumber foto: https://flic.kr/p/dwWHw5