February 23, 2015

“Tangis kesakitan anak saya adalah rajam terpedih untuk saya. Jika diperkenankan Tuhan, biarlah saya yang menanggung penyakit itu. Jangan anak saya! Saya takut dia tidak sanggup bertahan”.

Bagitulah tanggapan dan permintaan seorang ibu saat mengetahui bahwa anaknya mengidap penyakit kelainan jantung bawaan.

Ya, seorang ibu—sosok yang melahirkan dan melindungi, serta selalu mendukung meski anaknya melakukan banyak kesalahan—rela mengorbankan atau menukarkan dirinya demi sang anak.

Meski sosok ibu terlihat tegar dan tangguh, sesungguhnya ia memiliki banyak ketakutan. Seperti contoh pada cerita tadi, seorang ibu takut penyakit berbahaya menyerang anaknya.

Tentu, semua orangtua akan takut jika anaknya terserang penyakit berbahaya. Namun, bagi ibu—yang melahirkan dan mengasuhnya—ketakutan itu terasa lebih besar. Rasa cemas memikirkan kondisi kesehatan sang anak menyita pikirannya. Seolah sebagian jiwanya ikut merasakan sakit jika sang anak tak berdaya.

Pertanyaan, “Bagaimana jika anakku tak mampu bertahan?” Atau, “Adakah harapan bagi anakku untuk bisa melewati semua ini?” tentu kerap hadir dalam pikiran ibu. Membuatnya semakin “dihantui” rasa takut.

Itulah sebenar-benarnya perasaan seorang ibu. Setinggi itulah sosok ibu menyayangi kita. Sebesar itulah sosok ibu ingin berkorban demi kesembuhan kita.

Bagi seorang ibu, tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat sang anak tersenyum dan dijauhkan dari segala penyakit. Lantas, bagaimana dengan kita—anaknya?


dia-yg-kupanggil-ibuDia yang Kupanggil Ibu karya Ade Wulan berisi untaian kisah tentang kehebatan ibu. Kisah-kisah tersebut begitu menyentuh perasaan. Menyadarkan kita akan arti penting seorang ibu.

beli

 

 

 

 

Sumber gambar: www.flickr.com/photos/paul_everett82/5507628295/