sadar-akber-yogya1
May 19, 2015

Kita sudah sering dengar kata “bahagia itu sederhana”. Tapi, apakah kita sudah benar-benar menerapkannya? Sering kali kita kebingungan untuk memaknai kesederhanaan. Kita merasa belum siap untuk berpisah dengan beberapa hal yang menurut kita penting, tetapi sebenarnya tidak perlu.

Pada sesi “Hidup Sederhana untuk Bahagia” bersama Akademi Berbagi Yogyakarta, 10 Mei 2015 silam, Adjie Silarus menyarankan konsep “one in, two out”. Jadi, misalkan kita membeli satu buku baru, artinya kita harus siap melepaskan dua buku lama. Memang tidak mudah, tetapi bisa dilakukan.

Coba bayangkan, seberapa sering kita membaca ulang buku yang kita punya? Umumnya lebih banyak hanya bertengger saja di lemari, bukan? Tapi kalau kita lepaskan, baik disumbangkan ke panti asuhan atau dihadiahkan kepada teman, tentu buku-buku tersebut akan jauh lebih bermaknda dan bermanfaat.

Adjie menerapkan 3 poin penting dalam hal menerapkan keserhanaan. Pertama, seleksi tanpa ampun. Untuk apa mempertahankan benda-benda yang tidak lagi bermanfaat bagi kita? Kedua, tanamkan prinsip efisiensi. Untuk apa memiliki banyak barang jika yang digunakan itu-itu saja? Ketiga, tanyakan kepada diri sendiri, apakah barang yang dipertahankan benar-benar memberikan kebahagiaan sejati, atau kesenangan semu semata?

Ingatlah bahwa kesederhanaan memberikan kebebasan dan tambahan waktu luang. Kesederhanaan jugalah—bukan kemewahan—yang sebenarnya lebih mampu memberikan kenyamanan dan kebahagiaan dalam hidup.

sadar-swaragama2
May 19, 2015

Percayakah Anda bahwa dewasa ini, angka kematian akibat bunuh diri bahkan jauh lebih besar daripada akibat perang dan bencana alam? Hal ini tentu sangat memprihatinkan, mengingat bahwa nyawa manusia sangat berharga. Sudah tentu bahwa siapa pun ingin dicintai. Tapi sebelum mengharapkan orang lain mencintai kita, alangkah baiknya jika kita terlebih dulu belajar mencintai diri sendiri. Dengan begitu kita akan lebih dapat menghargai hidup ini.

 

Percayakah Anda bahwa dewasa ini, angka kematian akibat bunuh diri bahkan jauh lebih besar daripada akibat perang dan bencana alam? Hal ini tentu sangat memprihatinkan, mengingat bahwa nyawa manusia sangat berharga. Sudah tentu bahwa siapa pun ingin dicintai. Tapi sebelum mengharapkan orang lain mencintai kita, alangkah baiknya jika kita terlebih dulu belajar mencintai diri sendiri. Dengan begitu kita akan lebih dapat menghargai hidup ini.

Pada talkshow di Swaragama 101.7 FM Yogyakarta, 10 Mei 2015 silam, Adjie Silarus menyampaikan bahwa mencintai diri sendiri bisa sesederhana tidak meminum air es ketika sedang batuk. Atau, meminum segelas air putih ketika baru bangun tidur. Intinya, tanamkanlah kebiasaan positif dari hal yang paling sederhana. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini lambat laun akan membentuk kita menjadi manusia yang menyayangi diri sendiri.

Penulis buku Sadar Penuh Hadir Utuh ini juga mengungkapkan bahwa kita sering melupakan indahnya merasa. Karena pengalaman masa lalu yang pahit, kemampuan diri untuk merasakan sesuatu jadi menumpul. Kita menutup hati serta membiarkannya mengeras dan terkunci. Padahal, masih banyak pengalaman lain yang menyenangkan, tetapi kita lupakan karena terlalu fokus pada hal-hal yang buruk.

Oleh karena itu, Adjie mengajak kita untuk menyadari bahwa kita merupakan bagian dari alam semesta yang penuh cinta tak terhingga. Bukalah hati untuk mencintai diri sendiri, agar kemudian hati itu bisa berbagi kasih dengan orang-orang di sekitar.

sadar-yogya1
May 19, 2015

Banyak orang yang mengasosiasikan sunyi dengan keadaan yang sepi dan membosankan. Tapi menurut Adjie Silarus, penulis Sadar Penuh Hadir Utuh, dalam sunyi dan heninglah kita bisa menemukan damai dan bahagia. Kita selalu ingin melakukan perjalanan ke berbagai tempat, mulai dari luar kota hinga luar negeri. Namun, sudahkah kita melakukan perjalanan ke dalam diri sendiri? Mampukah kita menyelami diri sehingga jiwa dan raga ini hadir seutuhnya di sini-kini?

Dalam sesi bersama Young on Top Yogyakarta di Edu Hostel, 9 Mei 2015 lalu, Adjie mengajak para peserta belajar memaknai keheningan untuk mencipta bahagia. Caranya dimulai dengan merilekskan tubuh, lalu menyadari napas. Ya, kita memang selalu bernapas setiap saat. Tapi itu kita lakukan dengan otomatis, seperti mesin yang bekerja dengan sendiriya. Dengan menyadari napas, kita akan lebih bersyukur dan berterima kasih karena napas itu merupakan anugerah yang membuat kita hidup.

Adjie juga mengungkapkan bahwa ada dua tipe jenis pernapasan, yaitu napas dada dan napas perut. Umumnya yang banyak orang lakukan ialah napas dada, yaitu dada tertarik ke atas ketika menghirup, kemudian dada menurun ketika mengembuskan. Cara ini sebenarnya tidak salah, tetapi mengeluarkan lebih banyak energi daripada napas perut. Karena itulah ketika orang menahan marah, dadanya akan terlihat kembang-kempis.

Lalu, bagaimana dengan napas perut? Ketika menghirup udara, perut mengembung. Kemudian ketika mengembuskan napas, perut mengempis. Awalnya memang sedikit terasa sulit karena mungkin kita belum terbiasa. Namun, jika kita terus berlatih, lambat laun kita akan dapat menerapkannya dengan mudah.

Dengan berlatih menyadari napas, kita bisa menemukan ketenangan dan kebahagiaan di tengah kesunyian. Sadarilah bahwa kita tak perlu lagi mencari-cari kebahagiaan di luar sana. Semua yang kita perlu sudah ada di sini-kini.

sadar-akber1
May 19, 2015

Konsultan produktivitas ternama, David Allen, memaparkan bahwa kadar produktivitas kita berbanding lurus dengan kemampuan kita untuk bersantai. Artinya, hasil pekerjaan kita tidak akan maksimal jika kita terlalu tegang dan tidak bisa membagi waktu dengan baik.

Senada dengan pendapat ini, Adjie Silarus mengisi sesi “Productive Through Happiness” bersama Akademi Berbagi Semarang, 8 Mei 2015 silam. Pada acara yang bertempat di Balai Kota Semarang ini, Adjie menekankan pentingnya untuk merasa bahagia agar produktivitas kita dalam keseharian semakin meningkat.

Dia juga menyampaikan bahwa selama ini kita sering keliru dalam mengartikan “istirahat”. Sebenarnya, istirahat terbagi menjadi dua macam, yaitu passive rest dan healthy rest. Misalkan kita sedang bekerja, lalu beristirahat dengan cara menonton atau membaca buku. Pada keadaan seperti itu, tubuh kita memang pasif, tetapi otak kita tidak benar-benar istirahat karena masih sibuk mengonsumsi informasi. Ini yang disebut dengan passive rest.

Adapun yang termasuk healthy rest yaitu ketika kita benar-benar mengistirahatkan raga dan pikiran. Kalau mengantuk, kita bisa tidur sebelum melanjutkan aktivitas. Tapi kalaupun tidak, kita bisa lakukan meditasi sederhana dengan menyadari napas. Tidak perlu lama-lama, lima menit saja cukup.

Syaratnya, selama lima menit itu kita benar-benar fokus menyadari napas. Ketika pikiran mulai mengembara ke masa lalu atau masa depan, tarik kembali untuk menyadari napas, di sini-kini. Syukurilah bahwa napas tersebut merupakan anugerah yang membuat kita hidup.

Tak perlu sibuk memikirkan apa saja yang belum tercapai dalam hidup, tetapi berbahagialah dengan yang sudah didapatkan selama ini. Latihan untuk mencipta bahagia dan meningkatkan produktivitas ini juga Adjie kupas tuntas dalam bukunya yang berjudul Sadar Penuh Hadir Utuh.

sadar-radio-trijayasmg1
May 19, 2015

Sebagai makhluk yang diberi akal dan perasaan, manusia memiliki kebutuhan untuk saling berbagi dengan sesama. Terkadang, ketika merasakan beratnya suatu masalah, yang kita perlukan hanyalah bercerita kepada teman terdekat. Sekadar bercerita memang tidak serta-merta membuat masalah kita selesai. Tapi setidaknya, beban batin sedikit berkurang sehingga kita bisa menghadapi masalah tersebut dengan lebih baik.

Begitu pula ketika orang datang kepada kita untuk bercerita. Kita tidak perlu pusing-pusing menganalisis masalah tersebut dan sibuk mencari solusinya. Yang terutama adalah kita mendengarkan dengan sepenuh hati agar orang yang bercerita merasakan kehadiran kita untuknya.

Pada sesi talkshow di Sindo Trijaya 104.6 FM Semarang, 8 Mei 2015 silam, Adjie Silarus menunjukkan keprihatinannya atas tingginya angka bunuh diri dewasa ini. Menurut praktisi mindfulness tersebut, tidak ada masalah yang demikian berat sampai mengharuskan seseorang untuk mengakhiri hidupnya. Yang menjadikannya berat hanyalah pikiran orang itu sendiri.

Jadi, yang diperlukan hanyalah teman untuk bersandar di tengah masalah sesulit apa pun. Dalam bukunya yang berjudul Sadar Penuh Hadir Utuh, Adjie menekankan pentingnya untuk belajar mendengarkan. Selama ini sudah banyak buku yang mengupas cara untuk berbicara, terutama untuk tampil di depan umum, tetapi masih sedikit sekali yang membahas pentingnya menguasai seni mendengarkan dalam hubungan interpersonal.

Di sinilah Adjie mnyampaikan pandangannya bahwa sangat penting untuk hadir utuh bagi orang yang kita kasihi. Karena, mendengarkan itu menyembuhkan. Dengan mendengarkan, kita bisa membantu orang mengobati luka dan mengatasi masalah seburuk apa pun.

sadar-radio-semarang1
May 19, 2015

Dalam keseharian, sering kali kita dituntut untuk bisa multitasking. Ya, memang ada begitu banyak hal yang penting untuk kita selesaikan. Yang menjadi pertanyaan, mampukah kita mengerjakan itu semua dengan optimal? Atau, sejadinya saja yang penting selesai?

Menurut Adjie Silarus, praktisi mindfulness dan penulis buku Sadar Penuh Hadir Utuh, terlalu sering memaksakan diri untuk multitasking bisa menurunkan produktivitas. Bahkan menurutnya, multitasking merupakan sebuah bentuk bakat yang semakin sering diterapkan, justru kualitasnya semakin menurun.

Lantas, bagaimana solusinya? Pada talkshow yang disiarkan di UP Radio 98.5 FM Semarang, 8 Mei 2015 silam, Adjie mengatakan bahwa yang terpenting adalah menjaga kesehatan mental. Caranya yaitu dengan menjaga keseimbangan antara tubuh dan pikiran—inilah yang disebut mindfulness.

Jadi, seberapa banyak pun pekerjaan yang menuntut untuk segera diselesaikan, coba runutkan satu per satu sesuai prioritas. Kemudian yang terpenting, masing-masing dikerjakan dengan fokus. Jangan mengerjakan A sambil memikirkan B, dan seterusnya.

Selain itu, perhatikan juga kemampuan fisik. Menurut Adjie, saat ini masih banyak orang yang mengasosiasikan tidur siang dengan kata “pemalas”. Padahal, jika tubuh memberi sinyal kelelahan—salah satunya dengan datangnya rasa kantuk—artinya kita memang perlu istirahat.

Yang Adjie maksud tentu saja bukan tidur siang yang berkelanjutan selama berjam-jam, tetapi cukup sekitar 10-15 menit. Inilah yang orang bilang sebagai power nap. Jadi, meskipun waktu kita terinterupsi untuk istirahat, kualitas pekerjaan kita akan jauh lebih baik daripada memaksakan diri untuk bekerja dalam keadaan mental yang sudah kelelahan.

upload2-gancit
April 29, 2015

Dalam filosofi Cina, dunia ini terbagi menjadi yin dan yang. Dua kekuatan yang bertolak belakang ini sebenarnya saling melengkapi sehingga harus dijaga keseimbangannya. Jika bicara soal yin dan yang dalam praktik kehidupan sehari-hari, gambarannya kira-kira seperti ini.

 Yin  Yang
–    melepaskan, merelakan datang dan pergi
–    diam dalam hening
–    bersabar, menunggu
–    menerima, bersyukur
–    merayakan saat ini, di sini-kini
–    mempertahankan dan menggenggam erat
–    bergerak dalam riuh
–    tergesa, bertindak
–    meraih, berharap
–    bermimpi akan masa depan yang lebih baik

Adjie Silarus, seorang meditator dan praktisi mindfulness, menyatakan bahwa dewasa ini manusia lebih fokus kepada yang sehingga mengabaikan yin. Ketidakseimbangan ini tentu sangat memengaruhi kualitas hidup. Hal ini disampaikannya pada sesi “Mencipta Bahagia dengan Hening” yang diadakan di Gramedia Gandaria City, 26 April 2015 silam.

upload3-gancit

Menurut Adjie, kita selalu dituntut untuk melakukan sesuatu atau do something sehingga selalu terdorong untuk tergesa-gesa. Padahal, untuk apa buru-buru? Toh, pada umumnya orang tidak ingin terburu-buru meninggalkan dunia ini, bukan? Hidup ini cuma sekali, jadi alangkah indahnya kalau kita isi dengan hal-hal yang membahagiakan, bukan sekadar menyibukkan dan memusingkan.

Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan kebahagiaan? Setiap orang memiliki sumber kebahagiaan masing-masing, tetapi satu hal yang perlu diingat: kebahagiaan itu ada pada diri kita sendiri. Kita hanya perlu lebih cermat menghargai keindahan pada hal-hal sederhana yang ada di sekeliling kita.

Dalam bukunya yang berjudul Sadar Penuh Hadir Utuh, Adjie Silarus menyampaikan pentingnya menerapkan yin dalam kehidupan kita. Dengan demikian, kita akan lebih bahagia dan bersyukur, bukan hanya larut dalam kesibukan yang menyita waktu dan pikiran. Ingat, kita ini human being, bukan human doing.

yoga-fest2
April 29, 2015

Pernah dengar istilah “the power of mind” atau “kekuatan pikiran”? Sebagai makhluk hidup yang dianugerahi akal sehat, manusia didorong oleh energi pada pikirannya. Jadi, konon sugesti positif akan melahirkan kenyataan yang baik; begitu pula sugesti negatif akan melahirkan kenyataan yang mengecewakan. Karena itulah banyak motivator yang menekankan pentingnya untuk selalu positive thinking atau berpikiran positif.

Pernah dengar istilah “the power of mind” atau “kekuatan pikiran”? Sebagai makhluk hidup yang dianugerahi akal sehat, manusia didorong oleh energi pada pikirannya. Jadi, konon sugesti positif akan melahirkan kenyataan yang baik; begitu pula sugesti negatif akan melahirkan kenyataan yang mengecewakan. Karena itulah banyak motivator yang menekankan pentingnya untuk selalu positive thinking atau berpikiran positif.

Namun, Adjie Silarus punya pendapat yang sedikit berbeda. Ketika mengisi salah satu sesi pada Yoga Festival di Taman Menteng, 25 April 2015 silam, dia mengungkapkan bahwa yang terpenting bukanlah berpikir positif, melainkan berpikir apa adanya. Karena dengan begitu, artinya kita sudah mencapai ilmu yang tertinggi, yaitu ilmu menerima.

Pada sesi yang bertajuk “Beautiful Mind” ini, Adjie memberi contoh. Misalkan seseorang diomeli oleh atasannya. Orang yang berpikir negatif mungkin akan merasa down. Orang yang berpikir positif mungkin akan berkata, “Tidak, aku tidak diomeli. Bosku hanya memberi saran. Cara bicaranya saja yang membuatnya terkesan mengomel, padahal tidak.”

yoga-fest4

Tapi orang yang berpikir apa adanya akan berkata, “Iya, aku memang diomeli. Aku memang berbuat salah. Sekarang, apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki kesalahan ini?” Dari perbandingan ini dapat dilihat bahwa orang yang berpikir apa adanya memiliki kemampuan untuk menerima masalah dengan baik, lalu fokus pada solusinya. Tidak larut dalam kegundahan, juga tidak berusaha menyangkal keadaan yang tidak mengenakkan.

Kisah inspiratif lainnya tentang mengelola pikiran dapat Anda temukan dalam buku Adjie Silarus yang berjudul Sadar Penuh Hadir Utuh. Di dalamnya, Adjie mengupas cara-cara sederhana untuk mencapai mindfulness atau keselarasan jiwa dan raga. Sehingga, pikiran kita akan menggerakkan kita menuju arah kehidupan yang lebih baik.

korea-dalam
April 8, 2015

Ketika mendengar kata “Korea”, apa yang Anda pikirkan? Drama seri, boyband dan girlband, tempat wisata, makanan khas, atau budayanya? Ya, belakangan ini Korea—terutama Korea Selatan—cukup menarik perhatian masyarakat dunia. Begitu pula di Indonesia, kegemaran terhadap hal-hal yang berbau Korea pun semakin mewabah.

Sebagai sebuah negara, Korea sendiri adalah sebuah semenanjung yang berada di Asia Timur, di antara Tiongkok dan Jepang. Setelah Perang Dunia II, Korea terbagi menjadi dua negara, yakni Republik Korea (Korea Selatan) yang berhaluan demokratis dan Republik Rakyat Demokratik Korea (Korea Utara) yang berhaluan komunis.

Sejarah Korea bermula dari zaman Paleolitik Awal sampai dengan sekarang. Kebudayaan tembikar di Korea dimulai sekitar tahun 8000 SM, dan zaman neolitikum dimulai sebelum 6000 SM yang diikuti oleh zaman perunggu sekitar tahun 2500 SM. Kemudian, Kerajaan Gojoseon berdiri tahun 2333 SM. Baru pada abad ke-3 SM Korea mulai terbagi-bagi menjadi banyak wilayah kerajaan.

Budaya Tionghoa yang diimpor selama berabad-abad ikut berperan membentuk sistem sosial, dan norma berdasarkan konfusianisme, buddhisme, dan taoisme. Hasilnya adalah beragamnya bentuk manifestasi, akulturasi antara budaya asli Korea dan Tiongkok yang unik. Dari sini Korea berperan besar dalam mentransfer budaya yang maju ke Jepang.

Dalam budaya kontemporer, Korea dikenal akan tren Korean Wave yang dihasilkan menyebarnya popularitas budaya musik pop, film dan drama Korea, serta baru-baru ini tren video game dan B-Boy Korea.

Demam serial drama Korea saat ini sedang menjangkiti banyak remaja di Indonesia. Selain serial drama Korea, film-film dari Korea pun mulai masuk ke Indonesia dan memiliki penonton sendiri di Indonesia. Film Korea banyak mengangkat tema keluarga, cinta, dan persahabatan sehingga mudah diterima oleh penonton Indonesia.

Selain serial drama dan film, K-Pop pun digandrungi anak muda Indonesia. K-Pop yaitu jenis musik populer yang berasal dari Korea Selatan. Banyak artis dan kelompok musik pop Korea sudah menembus batas dalam negeri dan populer di mancanegara termasuk Indonesia.

Dalam bidang industri, Koreamulai menyusul negara-negara maju lainnya.Banyak perusahaan Korea berdiri di Indonesia. Perusahaan-perusahaan itu mulai mencari tenaga kerja yang memiliki kemampuan berbahasa Korea, peluang untuk karir yang menjanjikan terbuka lebar. Oleh karena itu mulai didirikan sekolah berbasiskan Korea di Jakarta, dengan keadaan seperti ini bukan tidak mungkin dua sampai tiga tahun ke depan bahasa Korea menjadi bahasa asing wajib mendampingi bahasa Inggris.

Untuk itu, keberadaan bahasa Korea pun mulai diperhitungkan. Tidak sedikit dari masyarakat kita yang mulai melirik bahasa Korea sebagai bahasa asing yang wajib dipelajari. Mengikuti kursus bahasa Korea mungkin menjadi alternatif yang paling tepat bagi Anda yang ingin mempelajarinya. Adapun sebagai panduan untuk belajar mandiri, kamus bahasa Korea bisa menjadi pelengkapnya.


kamus-lengkap-korea-indoKamus Lengkap Korea-Indonesia, Indonesia-Korea yang disusun Jeanie Rosandi adalah pegangan wajib bagi Anda yang ingin mempelajari bahasa Korea baik melalui kursus atau otodidak, bentuknya yang ringkas membuat kamus ini dapat selalu disisipkan ke dalam tas. Kamus ini juga dilengkapi oleh sistem bilangan dalam bahasa Korea, serta ungkapan-ungkapan penting dalam bahasa Korea yang sangat berguna untuk lebih memahami bahasa Korea.

 

 

 

 

Sumber foto: www.flickr.com/photos/laszlo-photo/387621136/

trans
April 6, 2015

#terusmenjadi Media Kita Group

 

trans

Empat belas tahun lalu, kami menempati sebuah rumah mungil di kawasan Bintaro. Hanya dengan sebuah rumah bertipe 45 m2. Hanya dengan 2 orang karyawan. Hanya dengan bekal komputer bekas, tanpa meja, tanpa kursi. Kami melawan apa itu yang namanya lelah, apa itu yang namanya putus asa, dan kami melawan semua yang akan membuat kami tunduk dan meringkuk.

Mulanya, hanya bermodal semangat menggebu dari para founder di kelompok penerbit ini untuk mewujudkan apa yang kami impikan. Tentu tak mudah kami melewatinya. Kini, 14 tahun berlalu. Kami telah menjelma menjadi sebuah kelompok penerbit yang diperhitungkan di dunia perbukuan di Indonesia. Dari 2 karyawan menjadi ribuan karyawan. Dari 45 meter persegi menjadi beribu-ribu meter persegi. Dari hanya satu penerbit, menjadi puluhan penerbit. Meskipun demikian, kami tidak boleh terus menoleh ke belakang. Kadang romantisme memang manis untuk dikenang. Tapi kami sadar tantangan di depan tidak boleh disepelekan.

Kini, sudah banyak perubahan pada peta perbukuan di Tanah Air. Tantangan terjal memang menghadang kami para pegiat di dunia perbukuan. Bukan saja kompetisi yang semakin tinggi, bukan saja terjadinya perubahan perilaku dan selera konsumen, tetapi juga perubahan pada sistem dan infrastruktur dalam memasarkan buku. Lihatlah bagaimana pola baca generasi sekarang yang lebih akrab dengan dunia online. Lihatlah, bagaimana mudahnya kita sekarang mengakses informasi lewat internet. Lihatlah, bagaimana gadget dalam genggaman bisa menjadi sebuah media informasi sekaligus hiburan. Lihatlah, bagaimana media sosial mengobrak-abrik tatanan teori pemasaran yang ada. Itulah realitas yang kami hadapi sekarang. Meskipun demikian, kami tak akan mengutuk kegelapan. Kami memilih untuk menyalakan api untuk mencari pintu keluar. Bagi kami, itu semua bukan ancaman, melainkan tantangan yang harus dihadapi. Bisnis di perbukuan bukan semata-mata bisnis buku secara fisik. Bisnis di dunia perbukuan adalah bisnis konten, informasi, dan kreativitas. Selama api kreativitas tetap menyala dalam diri kami dan kami selalu peka membaca kebutuhan konsumen, bisnis ini akan tetap berjalan. Mengutip sebuah kata bijak dari sang petinju legendaris Muhammad Ali, “Tiadanya keyakinan lah yang akan membuat orang takut menghadapi tantangan, dan saya percaya pada diri saya sendiri”.

Setahun lalu, lahir kelompok-kelompok baru di bawah Kelompok besar AgroMedia. Salah satunya MediaKita Group. Munculnya kelompok ini antara lain untuk menghadapi tantangan dan menyikapi persoalan yang berkembang di lapangan. Persoalan yang akan selalu muncul dan rentan perubahan dalam sebuah bisnis perbukuan. Saat ini, MediaKita Group terdiri atas 6 penerbit, yaitu mediakita, AnakKita, TransMedia Pustaka, Demedia, Indonesia Tera, dan Gradien Mediatama. Sebagai sebuah kelompok penerbit yang relatif baru, kami tentunya punya mimpi yang besar. Kami punya semangat untuk terus membawa kelompok ini menjadi yang terbaik dan terdepan. Kami berharap, apa yang sudah dilakukan oleh para founder di Kelompok AgroMedia ketika membangun bisnis ini menular pada kami. Kami memimpikan MediaKita Group terus berkembang, dari enam menjadi belasan, puluhan, bahkan melebihi dari sang induk, Kelompok AgroMedia. Kami mendambakan untuk bisa menjadi kelompok penerbit besar yang mampu menjawab setiap perubahan dan tantangan.

Kami, tak ingin berhenti…karena kami ingin #terusmenjadi.

Selamat ulang tahun ke-14 Kelompok AgroMedia.
Salam hangat dari kami, MediaKita Group!

You can also sellect color codes via admin theme options

That is some options to demo for you.

X