Harusnya kita bahagia menjalani hidup ini, karena kasih-Nya selalu bersama kita, tercurah bagai hujan deras. Jangan mengeluh karena hujan basahi tubuh dan menuduh cuaca buruk tak bersahabat. Sementara di tempat lain orang-orang berdoa berharap kekeringan segera berakhir.

 o happines dalam

Harusnya kita bahagia menjalani hidup ini, karena kasih-Nya selalu bersama kita, tercurah bagai hujan deras. Jangan mengeluh karena hujan basahi tubuh dan menuduh cuaca buruk tak bersahabat. Sementara di tempat lain orang-orang berdoa berharap kekeringan segera berakhir.

Penderitaan hanyalah kondisi yang mana kita tak mampu melihat sisi baik dari kejadian. Bukan karena kita benar-benar menderita. Lalu, masihkah kita pantas mengatakan diri adalah yang paling menderita? Penderitaan hanya buih di samudra kasih-Nya yang tak bertepi.

Dua penggal paragraf di atas dinukil dari buku Jiwa Bahagia karya Sigit Risat. Buku ini mengantarkan kita bagaimana menentramkan dan memilih jiwa bahagia. Ditulis dengan renyah dan mengalir penuh penjiwaan dari seorang yang fokus pada pengembangan diri.

Banyak orang memaknai bahagia dengan caranya masing-masing. Tidak ada yang salah. Sebab bahagia bisa datang dari mana saja, dari dalam diri sendiri, dan tidak berkaitan dengan uang dan materi. Bahagia itu bagian dari tujuan kehidupan.

Kisah-kisah bahagia yang dituturkan dari dongeng hingga success stories yang nyata biasanya diiringi kisah penderitaan.  Sebuah musibah selalu beriringan dengan berkah dari alam semesta. Sebutlah usai bencana gunung meletus, di sana kemudian alam memberikan kesuburan tanah. Atau, hujan yang menyeimbangkan kekeringan di musim kemarau.

Bisakah kebahagiaan dicapai tanpa merasakan penderitaan?  

Proses menemukan kebahagiaan tidaklah mudah. Dalam proses mencari tidak semua orang terus bertemu keberuntungan dan kebahagiaan. Hanya rasa syukur dan kesadaran yang perlu dilatih dan terus dilatih—secara fisik dan jiwa.

Latihan bersyukur, bersedekah, dan afirmasi positif terus-menerus tanpa lelah merupakan kunci mencapai kebahagian. Perlu aksi nyata untuk mendapatkan kebahagiaan. Ini soal pilihan hidup dan aksi memilih kekinian dari pada hidup di masa lalu. Atau, hanya kekhawatiran pada masa depan.

Apa yang membuat buku ini tidak membosankan dan enak disimak adalah karena penuh material perenungan hidup. Selain itu, cara berkisah dan penyajian dengan disertai contoh dirasakan akan membuka wawasan dalam  menghargai kehidupan.

Selain menyajikan banyak jalan menuju bahagia, cara praktis berdamai dengan diri sendiri, terhubung dengan alam bawah sadar, serta afirmasi menjadi penutup penting dalam buku terbitan TransMedia Pustaka. Anda perlu menyimak dan membuktikan sendiri.

Image: www.huffingtonpost.com