| In The Miso Soup |
|
|
|
| Ditulis Oleh Newsroom | |
| Jumat, 16 November 2007 | |
|
Menjelang akhir tahun itu, Kenji mendapat job dengan bayaran lumayan tinggi dari Frank. Tiga hari mengantarkan Frank adalah pengalaman yang menegangkan bagi Kenji. Betapa tidak, pikirannya terus disibukkan dengan perasaan curiga yang kian menguat pada Frank. Tentang pembunuhan yang terus bergelanyut di benak Kenji. Terbersit rasa curiga dan seram setelah bergaul dengan lelaki yang berkulit muka seperti plastik ini. Sebelumnya terdengar kabar dari media bahwa seorang gadis seusia SMA mati dibunuh dengan tidak lumrah di kawasan lokalisasi seks di Jepang. Ia mati di mutilasi, bukan seperti mati kebiasaan di kawasan ini menurut Kenji. Kisah ini dibuka dengan gadis muda yang ditemukan mati di Kabuki-Cho, di red-light district Tokyo. Media menghubungkan kematiannya pada sebuah grup anak-anak SMA terkait prostitusi. Tapi kisah ini bukanlah soal perdagangan seks di Tokyo. Ini soal Kenji dan Frank. Tentang pertemuan dua kebudaayaan: Jepang dan Amerika. Frank adalah orang yang begitu asing bagi Kenji. “Kulit Frank agak aneh, di usianya yang lebih dari 35 tahunan, tidak ada kerutan sama sekali. Karena tidak ada kerutan, bukan berarti kulitnya licin. Tapi, kelihatannya seperti tidak alami, ” demikian gambaran Kenji soal Frank.Ya, sosok Frank yang mewakili wajah seorang Amerika yang membuat risih Kenji.
Bagaimana kelanjutan dari kisah yang akan mengantarkan kita menuju kekejaman “iblis” yang tak mampu dihindari? Hanya Jun, kekasih Kenji yang mungkin bisa menyelamatkan pemandu wisata seks ini. Selanjutnya temukan jawabannya pada novel In the Miso Soup yang ditulis dari seorang master thriller-psikologi ini. Novel dalam versi bahasa Indonesia ini diterbitkan oleh TransMedia. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|





Rulli Kusnandar



